Minggu, 14 Juli 2024

Dibalik Permintaan Maaf Yamaha Kepada Rossi dan Vinales

William Favaro & Lin Jarvis, Movistar Yamaha 2018. (Dok: Rungansport)
William Favaro & Lin Jarvis, Movistar Yamaha 2018. (Dok: Rungansport)

TitikNOL - Permintaan maaf pemimpin proyek Yamaha MotoGP kepada Valentino Rossi dan Maverick Vinales merefleksikan masalah yang kini dihadapi tim atas pilihan yang dibuat setelah kembalinya The Doctor.

Kesimpulan pertama yang bisa kita tarik dari konferensi pers luar biasa Kouji Tsuya pada Sabtu (11/8) lalu di Red Bull Ring adalah bahwa motor YZR-M1 tidak pada level yang seharusnya.

Selama pidatonya, Tsuya-san meminta maaf beberapa kali. Namun melihat hasil Yamaha dalam 11 balapan Grand Prix, satu-satunya yang jelas adalah grid ke-14 Rossi. Karenanya ada kebingungan mengapa Tsuya memilih akhir pekan ini untuk memberikan pernyataan publik semacam itu.

“Saya bukan orang yang harus menilai apakah permintaan maaf diperlukan atau tidak – saya ingin mereka memperbaiki motor,” ucap sang sembilan kali juara dunia.

Tidak ada keraguan tentang pentingnya Valentino di dalam tim Jepang. Betapapun rumitnya situasi saat ini, Anda dapat menyimpulkan pengaruh kuat pembalap Italia itu menjadi menimbulkan dampak bagi Yamaha dalam apa yang sering dijuluki 'efek bumerang'.

Mereka yang membela teori ini bisa melihat musim 2013, ketika Rossi kembali ke Yamaha setelah dua tahun kesulitan di Ducati. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain menerima peran pembalap kedua, karena Jorge Lorenzo telah memenangi dua gelar terakhir bersama Yamaha (2010 dan 2012).

“Valentino akan diberikan perlakuan sama seperti Jorge, tetapi pembalap Spanyol akan menjadi pemimpin pengembangan motor karena dia adalah orang yang paling berpeluang memenangi gelar masa depan,” ucap Lin Jarvis kala itu.

Namun dalam kenyataannya dan apa yang terjadi adalah The Doctor mulai memulihkan sebagian kepentingannya, baik dalam hasil olahraga maupun keterampilan komunikatif serta politiknya.

Ia terus berpacu dengan Lorenzo, mengalami musim buruk pada 2014 dan memilih jalan berbeda dari yang telah membawanya ke kesuksesan sebelumnya.

Yamaha mulai berkomitmen kepada Rossi dengan beberapa konsekuensi yang tak terpikirkan. Contoh paling nyata pada 2015, ketika Lorenzo merebut gelar ketiga MotoGP-nya setelah mengalahkan rekan setimnya, dan tim justru memutuskan untuk membatalkan perayaan X-Fuera.

Saat itulah Lorenzo mulai memiliki perubahan hati, akhirnya bergabung ke Ducati pada 2017.

Lorenzo meninggalkan tim berarti Rossi menjadi penguasa alam semesta Yamaha. Pabrikan garpu tala mulai tunduk padanya dalam semua cara yang mungkin – termasuk hubungan lebih dekat dengan VR46 Riders Academy.

Kesuksesan balapan Rossi Rossi bukan satu-satunya hal yang dipertaruhkan selama dua tahun ke depan. Hal yang sangat penting adalah apa yang akan terjadi selanjutnya.

Secara logis, Yamaha tidak ingin mengambil risiko kehilangan daya tarik utamanya, ikon paling kuat dari dunia motor. Mereka tidak ingin ia menjauh dari dunia balap setelah pensiun.

Dari sudut pandang itu, reaksi berlebihan akhir pekan lalu di Austria tiba-tiba masuk akal, bahkan jika itu bukan pertanda baik bahwa perusahaan global sebesar Yamaha lebih memilih untuk melindungi citra tunggal dari salah satu pembalapnya lebih dari miliknya sendiri. Terutama jika individu itu adalah Valentino Rossi.

Berita ini telah tayang di id.motorsport.com, dengan judul: Di balik permintaan maaf Yamaha

Komentar