Pemprov Banten Inisiasi Gerakan 'Hospital Goes To Village', Apa Itu?

Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten. (Dok:net)Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten. (Dok:net)

TANGERANG, TitikNOL - Pemerintah Provinsi Banten menggagas gerakan 'Hospital Goes To Village'. Gerakan itu dilakukan, demi memaksimalkan ketersediaan sarana pelayanan kesehatan yang merata hingga tingkat pedesaan.

Dikatakan Gubernur Banten, Rano karno, saat ini keberadaan rumah sakit 79% berada di wilayah Tangerang dan sisanya 21% di wilayah kab/kota lain di Provinsi Banten. Disparitas sarana pelayanan kesehatan yang belum merata ini lanjut Rano Karno, berakibat kepada kurang optimalnya aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan rumah sakit.

“Seperti kita ketahui sebetulnya pihak Rumah Sakit pun sangat ingin melakukan perluasan cakupan maupun penjangkauan pelayanan kepada masyarakat. Sedang di sisi yang lain masyarakat di wilayah Kecamatan apalagi derah terpencil banyak mengalami kesulitan atau memiliki aksesibilitas yang sangat terbatas terhadap layanan rumah sakit,” kata Rano Karno saat hadir pada Rapat Kerja Kesehatan Daerah Tingkat Provinsi Banten, Rabu (13/4/2016) di Kota Tangerang.

Melalui Rapat Kerja Kesehatan Daerah tersebut, Rano Karno menginisiasi dan canangkan sebuah Gerakan yaitu “Gerakan Hospital Goes To Village”, yakni gerakan perluasan jangkauan dan mendekatkan pelayanan rumah sakit hingga ke wilayah kecamatan dan perdesaan.

Gerakan ini melibatkan seluruh rumah sakit yang ada di Banten yang tergabung dalam PERSI (Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia) wilayah Banten dan BPJS Kesehatan.

Rano berharap, gerakan tersebut diharapkan memudahkan aksesibilitas warga masyarakat terhadap layanan rumah sakit. Disisi lain pihak Rumah Sakit pun memerlukan gerakan ini sebagai salah satu bentuk Corporate Social Responsibility (CSR).

Gerakan simpatik ini merupakan salah satu wujud perhatian Pemerintah Daerah dan dunia kesehatan terhadap minimnya aksesibilitas masyarakat pada fasilitas pelayanan Rumah Sakit apalagi terhadap Rumah Sakit yang “berkelas”. (Red)

Komentar