Banten Zona Kuning Covid-19

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid 19 Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti saat menjadi narasumber di acara podcast titiksigi. (Dok: TitikNOL)
Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid 19 Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti saat menjadi narasumber di acara podcast titiksigi. (Dok: TitikNOL)

SERANG, TitikNOL – Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid 19 Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti mengungkapkan, hasil evaluasi status level kewaspadaan di 8 kabupatan dan kota telah turun menjadi zona kuning.

Berdasarkan kategori, zona kuning ini diartikan resiko penularan virus corona menjadi rendah. Meski demikian, Ati mengingatkan masyarakat untuk tetap melakukan protokol kesehatan dalam menjalankan aktivitasnya. Sebab, tidak menutup kemungkinan akan muncul klaster baru.

“Awalnya 4 (kabupaten dan kota) zona merah, 4 zona orange. Kalau sudah di zona kuning resiko penularan rendah, tapi ada kemungkinan klaster baru. Oleh karena, harus melakukan berbagai protokol yang ada,” katanya saat menjadi narasumber di Podcast TITIKSIGI, di Studio TitikNOL, Rabu (8/7/2020).

Ia menjelaskan, penurunan zona dari merah ke kuning ini atas dasar nilai dari 15 indikator Kesehatan Covid 19. Hasilnya, Wilayah Banten berhasil meraih angka 2,7.

Untuk membebaskan Banten dari virus Corona, kata Ati, masyarakat wajib melakukan 4 hal. Pertama, harus melakukan protokol kesehatan, dimanapun, kapanpun dengan menjaga jarak. Kedua, selalu menggunakan masker.

Ketiga, harus mencuci tangan di air mengalir dengan sabun. Jangan menyentuh muka, hidung dan mulut apabila belum cuci tangan. Keempat, berprilaku hidup sehat, istirahat yang cukup dan olahraga teratur serta makan-makanan yang bergizi.

“Zona kuning harus turun ke hijau. Di akhir Juni keluar dari 10 besar. Kami melakukan indikasi dengan data 15 indikator. Hasil dari penilaian 2,7 untuk zona kuning. Resiko rendah 2,5 sampai 3 nilai indikatornya. Perhari ini kuning semua,” jelasnya.

Ia menyebutkan, hingga kini belum ada obat atau vaksin yang teruji dapat menyembuhkan pasien dari virus corona. Untuk terhindar dari covid 19, masyarakat diharapkan mengkonsumsi vitamin C dengan dosis tinggi, vitamin B kompleks dan vitamin E.

“Virus sampai saat ini belum ada obatnya, karena sifat dari virus ini sembuh dengan sendirinya. (Vaksin) Belum ditemukan, sedang dicari,” ucapnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten itu menceritakan, kasus warga yang dinyatakan positif Corona pertama kali di Banten terjadi di daerah Tangerang pada tanggal 10 Maret 2020. Pada saat itu, kondisi tenga kesehatan masih dalam setengah siap lantaran belum ada fasilitas APD yang lengkap untuk menangani pasien.

Namun, pihaknya bergegas melakukan skema dengan cara mengumpulkan seluruh direktur rumah sakit yang ada di Banten, untuk menyediakan pelayanan kesehatan khusus warga yang terindikasi terpapar virus Corona.

“Di Banten ada Covid terhitung 10 Maret dan urutan kedua di Indonesia setelah DKI. Semua Tangerang merah. Tanggal 10 ada kasus kami setengah siap. Kenapa belum full? karena di APD sulit, kami punya uang tapi sulit, barangnya langka dan mahal. Tapi dengan seadanya kami tacking bahkan dari 28 Februari,” tuturnya.

Menurutnya, salah satu penyebab Banten sempat dalam zona merah karena pemeriksaan swab harus satu pintu di Jakarta. Ditambah, waktu untuk menunggu hasil swab pasien dinilai cukup lama, mulai dari 4 hari bahkan bisa hingga satu bulan. Sehingga, tim gugus tugas mengalami keterlambatan dalam melakukan tracking.

“Sempat jadi zona merah, kami harus ke Jakarta melakukan swab, harus menunggu 4 hari bahkan 1 bulan, itu terkendala dari tracking kontak,” ujarnya.

Ia menghimbau, masyarakat tidak perlu phobia pada pasien yang positif covid 19. Sebab, virus tidak akan menular tanpa bersentuhan fisik maupun melalui benda. Maka, anjuran pemerintah untuk tetap melakukan protokol kesehatan wajib dijalankan agar tetap hidup sehat.

“Covid sebenarnya nggak perlu ditakutin, tapi bagaimana kita jangan sampai terkena covid. Saya seringnya nggak pulang karena selama covid banyak hal yang harus lakukan percepatan, kerja keras. Jadi harus standby di Kantor 24 jam. Ketika kami pulang, kami langsung buka baju, mandi, bersih-bersih,” tukasnya. (Son/TN1)

Komentar