Diduga Tak Berizin, Musyang Mahapeka UIN Banten Dibubarkan Dekan Melalui Telepon

Musyawarah Anggota (Musyang) Mahasiswa Pencinta Kelestarian Alam (Mahapeka) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten. (Foto: TitikNOL)
Musyawarah Anggota (Musyang) Mahasiswa Pencinta Kelestarian Alam (Mahapeka) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten. (Foto: TitikNOL)
SERANG, TitikNOL- Musyawarah Anggota (Musyang) Mahasiswa Pencinta Kelestarian Alam (Mahapeka) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten dibubarkan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (Febi) melalui suara via telepon.

Pembubaran agenda tahunan Musyang Mahapeka tersebut diduga tidak mengantongi izin tempat atau ruangan dari pihak Kampus UIN SMH Banten.

Peristiwa itu berawal dari seorang petugas kebersihan Kampus mendatangi para peserta Musyang dan menyuruh berhenti sesuai dengan intruksi orang nomor satu di Fakultas Febi melalui via telepon.

"Melalui Via telpon HP OB. Tiba-tiba memberhentikan dan menutup pintu yang sedang di gunakan oleh kami dengan alasan tidak adanya surat Izin, selain itu ruang kelas di fakultas yang tidak boleh untuk digunakan kegiatan selain mata kuliah," kata Ketua Mahapeka Surman kepada TitikNOL, Sabtu, (18/01/2020).

Ia mengaku ditegur oleh Dekan melalui via telepon dengan intonasi nada yang tinggi. Bahkan ketika berselisih paham, Dekan tersebut sempat mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh.

Pihaknya pun menyayangkan atas ucapan tidak terpuji tersebut. Sebab menurutnya, perkataan sang Dekan dianggap telah mencedrai Institusi Perguruan Tinggi yang didalamnya merupakan wadah untuk pendidikan.

"Nadanya amat marah dan berapi-api, sampai-sampai mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas sebagai Dekan dan Guru bagi seorang siswa, kata-kata itu keluar dari mulutnya dengan kata Bangsat, Setan," ungkapnya.

Atas peristiwa itu, pihaknya menuntut kepada Dekan untuk menarik ucapannya serta meminta maaf. Selain itu, pimpinan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) tersebut meminta kepada Rektor UIN SMH Banten agar memberhentikan Dekan tersebut dari jabatannya.

Karena Surman menilai, sebagai seorang Dekan harusnya melindungi dan memberi solusi terbaik, bukan malah mencontohkan hal yang amat buruk dan mencedrai etika moral. Apalagi UIN sebagai lembaga pendidikan tinggi berbasis agama islam, seharusnya mengajarkan dan menunjukan sikap atau ahlak yang terpuji.

"Kami meminta Dekan meminta maaf atas ucapannya dan menuntut agar tidak lagi menjabat sebagai Dekan," tegasnya.
Komentar