Miris! Siswa Madrasah di Lebak Ini Belajar di Gubuk

Puluhan siswa MI Nurul Hidayah di Kampung Babakan Jaha, Desa Rahong, Kecamatan Malingping belajar di gubuk. (Foto: TitikNOL)
Puluhan siswa MI Nurul Hidayah di Kampung Babakan Jaha, Desa Rahong, Kecamatan Malingping belajar di gubuk. (Foto: TitikNOL)

LEBAK, TitikNOL - Kondisi sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Hidayah yang berlokasi di Kampung Babakan Jaha RT14/RW03, Desa Rahong, Kecamatan Malingping, sangat memprihatinkan dan tidak layak disebut sekolah.

Pasalnya, kondisi bangunan jauh dari kata ideal dari standar sekolah madrasah. Bangunan semi permanen ini dindingnya hanya dari bilik bambu. Begitupun dengan atap sekolah yang hanya ditutupi oleh rumbia. Sementara bangunan bata semen hanya separuh dinding saja.

Ironisnya, siswa yang bersekolah di madrasah ini berjumlah ratusan. Muhamad E Suherman, Kepala Sekolah MI Nurul Hidayah mengatakan, MI Nurul Hidayah berdiri sejak tahun 2010 dengan jumlah siswa 136 orang dan 9 orang guru honorer sekolah.

Sejak berdiri kata Suherman, MI Nurul Hidayah yang dipimpinnya baru memiliki satu lokal bangunan sekolah dengan tiga ruang kelas yang digunakan oleh siswa kelas 2, 4, 5 dan kelas 6.

Sedangkan siswa kelas 1 dan kelas 3 sebanyak 45 orang siswa yang terdiri dari kelas 1 sebanyak 21 orang dan kelas 3 sebanyak 24 orang, mereka menempati bangunan gubuk yang dibangun dari dana swadaya masyarakat.

"Gubuk tempat belajar siswa kelas 1 dan kelas 3 dibangun dengan dana swadaya masyarakat pada tahun 2012, atapnya dari rumbia setengah badan bata dan dindingnya kami menggunakan bilik bambu atau gribig karena tidak ada biaya. Kalau hujan para siswa sangat terganggu mengikuti pelajaran karena sudah banyak yang bocor," ujar Maman, Kamis (31/8/2017).

Maman mengaku, setiap tahun dirinya selalu mengajukan permohonan bantuan kepada pemerintah utamanya kepada pihak Kemenag setempat, dengan harapan agar mendapat bantuan pembangunan gedung sekolah MI Nurul Hidayah. Akan tetapi kata Maman, hingga saat ini permohonan bantuan itu belum mendapat respons dari pemerintah.

"Mungkin yang namanya yayasan barangkali dianggap mampu untuk membangun gedung lokal baru, jadi sampai sekarang permohonan itu tidak pernah ada jawaban. Di sini ini, siswa yang bersekolah mayoritas berasal dari keluarga kurang mampu," imbuh Maman.

Sementara terkait dana BOS yang diterima, Maman menjelaskan, hanya cukup digunakan untuk honor guru dan operasional sekolah. Sementara untuk membangun gedung atau bangunan lokal baru tidak cukup.

"Tapi kami tetap menyisihkan dari dana BOS untuk pemeliharaan fisik, seperti perbaikan bangku dan meja belajar dan juga untuk pengecetan," terang Maman.

Terpisah, Ubed Jubaedi Kepala Desa Rahong, Kecamatan Malingping, sangat berharap adanya bantuan untuk pembangunan lokal baru MI Nurul Hidayah tersebut.

Lantaran kata Ubed, bila dianggarkan pembangunannya dari Anggaran Dana Desa (ADD) yang diterima Pemdes Rahong, belum ada regulasi yang mengatur dibolehkannya dana ADD untuk pembangunan gedung sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI).

"Kalau untuk fasilitas jalan paving blok sudah dibangun kang, pihak desa juga kebingungan kemana harus mengajukan pembangunan penambahan lokal untuk kelas 1, 2 dan kelas 3. Setiap tahun siswa terus bertambah, kasihan mereka belajar berdesak-desakan dan tidak nyaman apalagi kalau hujan turun atapnya sudah banyak yang bocor dan penyangga atap rumbia sudah banyak yang rapuh," tutur Ubed. (Gun/red)

Komentar