Imbas Covid-19

Tahan Lapar 2 Hari, Warga di Kota Serang Cuma Minum Air Galon

Yuli, salah satu warga Kelurahan Lontarbaru, Kecamatan Serang, Kota Serang saat menerima bantuan sembako dari Kwarda Banten dan wartawan Banten di kediamannya. (Foto: TitikNOL)
Yuli, salah satu warga Kelurahan Lontarbaru, Kecamatan Serang, Kota Serang saat menerima bantuan sembako dari Kwarda Banten dan wartawan Banten di kediamannya. (Foto: TitikNOL)
SERANG, TitikNOL – Pandemi Covid-19 berdampak pada keberlangsungan hidup manusia. Penyebaran virus yang sangat cepat melumpuhkan perekonomian masyarakat terutama kalangan menengah ke bawah.

Warga yang biasanya berpenghasilan harian, kini menjerit dan tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Terlebih, tidak sedikit juga karyawan swasta yang di rumahkan akibat bisnis perusahaan mandeg akibat Corona.

Seperti yang dialami Yuli, warga Kelurahan Lontarbaru, Kecamatan Serang, Kota Serang yang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sejak virus Corona merebak di daerahnya.

Bahkan sejak dua hari ini, Yuli dan keempat anaknya tidak bisa makan. Untuk menahan rasa laparnya, ia bersama keluarganya hanya minum air isi ulang galon. Sementara, anak bungsunya yang berumur tujuh bulan kerap menangis karena asi yang diberikan hambar.

"Dua hari ini kami cuma minum air galon isi ulang. Anak-anak bilang lapar juga, paling minum air saja," katanya saat ditemui bersama sejumlah relawan dari Kwarda Banten dan wartawan, Jumat (17/04/2020).

Dengan keadaanya tertekan dalam hal ekonomi, ia tetap berusaha mencari sesuap nasi dan rezeki untuk menghilangkan lapar anak-anaknya.
Ia juga sempat mengadu kepada Rukun Tetangga (RT) setempat untuk meminta bantuan sembako. Namun, pihak aparatur pemerintah tersebut menyatakan belum menerima ada bantuan.

"Saya sudah datang ke RT. Katanya ga bisa dapat bantuan," ungkapnya.

Ia menceritakan, untuk menyambung hidup, pihaknya mengandalkan penghasilan suaminya yang hanya pencari barang bekas. Yang seharinya paling banyak meraup uang sebanyak Rp30 ribu.

"Lumayan saja, satu hari kadang dapat 25-30rb. Beli beras satu liter untuk kami berenam, itu pun diirit-irit," rintihnya sambil bercucuran air mata.

Sebelum ada virus Corona, kehidupan Yuli terbantu oleh anak sulung yang telah bekerja. Saat ini, harapan itu musnah lantaran anaknya sudah tidak bekerja karena di rumahkan pihak perusahaan.

"Tadinya anak saya kerja. Sekarang dirumahkan karena tempat kerjanya tutup. Tambah, gaji terakhir tidak diberikan," tuturnya.

Saat didatangi relawan Kwarda Banten, Yuli mengucapkan banyak terima kasih karena hari ini dapat menyambung hidup untuk beberapa hari kedepan.

"Terimakasih banyak atas bantuan Kwarda Banten juga Wartawan Banten yang sudah membantu kami, semoga mendapat balasan berlipat dari Allah swt," tukasnya. (Son/TN1)

Komentar