SERANG, TitikNOL - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Lebak menetapkan pasangan calon Iti Oktavia Jayabaya - Ade Sumardi melawan kotak kosong di Pilkada Lebak 2018.
Hal itu pun menimbulkan reaksi dari sejumlah kalangan. Gelombang pilih kotak kosong pun terus ramai, terutama di media sosial.
Menanggapi hal itu, Pengamat politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Leo Agustino menilai, perlu adanya pemahaman kepada masyarakat, bahwa mencoblos kotak kosong juga bagian dari pilihan.
"Meski sebetulnya kotak kosong juga bisa menang apabila pemilih lebih banyak yang mencoblos kotak kosong. Tapi umumnya masyarakat hanya memahami bahwa pasangan tunggal selalu menang," kata Leo kepada titiknol.co.id, Senin (19/2/2018).
Menurut Leo, pasangan Iti-Ade melawan kotak kosong merupakan bukti kelemahan pesta demokrasi di Kabupaten Lebak.
Katanya, jangan sampai masyarakat dilema dengan lemahnya demokrasi, masyarakat yang memiliki hak untuk memilih dan harus berhak tahu soal kotak kosong.
"Padahal tidak demikian (satu pasangan menang). Oleh karena itu, KPU, akademisi, partai politik dan pegiat pilkada harus mensosialisasikan hal tersebut (pemahaman kotak kosong)," ungkapnya.
Menurut Leo, jika pemahaman kotak kosong tidak disampaikan kepada masyarakat, hanya akan membuat masyatakat Lebak buta akan demokrasi.
"Selama hal ini tidak pernah disampaikan, maka masyarakat hanya mencoblos gambar pasangan calon yang boleh jadi belum tentu ia harapkan kepemimpinannya di daerah," tukasnya.
Perlu diketahui, KPU Kabupaten Lebak telah menerapkan paslon Iti Oktavia Jayabaya - Ade Sumardi di pilkada Lebak melawan kotak kosong. (Gat/TN1)