Diserang Hama Wereng dan Tikus, Puluhan Hektare Sawah di Lebak Terancam Gagal Panen

Petani di Desa Malabar, Kecamatan Cibadak gagal panen akibat serangan hama wereng dan tikus. (Foto: TitikNOL)
Petani di Desa Malabar, Kecamatan Cibadak gagal panen akibat serangan hama wereng dan tikus. (Foto: TitikNOL)

LEBAK, TitikNOL - Setelah diserang hama wereng dan hama tikus, sejumlah petani padi di Blok Cisangu, Desa Malabar, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak mengalami gagal panen.

Saat ini, para petani di wilayah itu hanya bisa meratapi gagal panen dan mengalami kerugian puluhan juta rupiah.

Dikatakan Kepala Desa Malabar, Jubed Pasmi, gagal panen padi yang dialami oleh para petani di desanya diakibatkan serangan hama wereng dan hama tikus. Akibat kejadian tersebut kata Jubed, para petani mengalami kerugian materil hingga puluhan juta rupiah.

“Sebagian besar tanaman padi yang gagal panen, daunnya menguning dan tidak berbuah biji padinya. Itu akibat serangan hama wereng coklet. Sedangkan sisanya, gagal panen akibat diserang hama tikus,” ujar Jubed kepada wartawan, Kamis (28/12/2017) kemarin.

Dijelaskannya, area persawahan milik para petani yang sudah ditanami padi dan diserang hama wereng coklat serta hama tikus seluas lebih kurang 25 hektar.

“Sebelum dipastikan gagal panen, para petani pemilik sawah di Blok Cisangu kerap memeriksa tanaman padinya. Tapi tanpa diketahui ternyata sudah diserang hama wereng coklet dan hama tikus. Saat ini kondisi sawah yang sudah ditanami padi itu sudah rusak," papar Jubed.

Haerudin, salah seorang petani pemilik sawah di Blok Cisangu, terpaksa harus menunggu tiga hingga empat bulan kedepan untuk melakukan penanaman padinya kembali. Hal tersebut lantaran, padi yang ditanamnya saat ini gagal panen.

Bahkan kata Haerudin, bagi petani yang tidak memiliki dana untuk membeli bibit dan pupuk, bukan tidak mungkin tidak akan bisa melakukan penanaman bibit padinya kembali.

“Kami berharap untuk musim tanam bibit padi berikutnya, para petani mendapatkan bantuan bibit dan pupuk dari pemerintah ” harap Haerudin. (Gun/red)

Komentar