Tolak Tambang Pasir di Lebak, Kumala Jalan Kaki Sejauh 39 KM Temui Gubernur

Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Keluarga Mahasiswa Lebak (Kumala), saat menggelar aksi longmarc. (Foto: TitikNOL)Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Keluarga Mahasiswa Lebak (Kumala), saat menggelar aksi longmarc. (Foto: TitikNOL)

SERANG, TitikNOL - Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Keluarga Mahasiswa Lebak (Kumala), menggelar aksi long march dari Rangkasbitung, Kabupaten Lebak menuju kantor pusat pemerintahan provinsi Banten (KP3B) untuk bertemu dengan Gubernur Banten Wahidin Halim.

Aksi ini dilakukan sebagai bentuk kritikan terhadap tambang pasir yang dikeluhkan masyarakat, yang telah merusak sumber daya alam di sejumlah wilayah di Kabupaten Lebak.

"Kita ingin menyampaikan langsung kepada orang nomor satu di Banten, kita akan menggelar aksi mogok makan juga," kata koordinator aksi Iman, kepada wartawan Kamis (5/4/2018).

Iman mengatakan, aksi long march pun dilakukan sejak tadi pagi dan akan berlanjut sampai bertemu langsung dengan Gubernur Banten untuk menyuarakan dan menolak keberadaan tambang pasir yang merusak sumber daya alam.

"Kita ingin bertemu pak Gubernur, karena kita melihat pemanfaatan sumber daya alam dirasa penting. Kita melihat pemerintah Kabupaten Lebak tidak tegas dalam menyikapi persoalan ini," ungkapnya.

Iman menjelaskan, saat ini banyak keluhan masyarakat terkait galian pasir yang berada di daerah Citeras, Kopi, Cimarga dan lain sebagainya, tapi sampai saat ini tidak ada tindakan yang signifikan oleh pemkab," jelasnya.

Maka itu lanjut Iman, aksi Jalan kaki (Long march) dari Rangkasbitung ke Pusat Pemerintahan Provinsi Banten dengan membawa tuntutan sebagai berikut:

1. Menindak Tegas truck pengangkut pasir overtonase

2. Pengontrolan Secara Rutin Pengangkut pasir basah

3. Menindak Tegas atau penutupan pertambangan galian pasir yang tidak mengindahkan aturan yang telah ditentukan

(Gat/TN1)

Komentar