Provinsi Banten Resesi Ekonomi Terburuk Se-Pulau Jawa, WH: Iya Gitu?

Gubernur Banten, Wahidin Halim. (Foto: TitikNOL)
Gubernur Banten, Wahidin Halim. (Foto: TitikNOL)

SERANG, TitikNOL - Badan Pusat Statistik (BPS) pada tanggal 5 Nopember 2020, mengumumkan hampir seluruh provinsi di Indonesia masuk jurang resesi ekonomi karena mengalami kontraksi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dua kuartal beruntun.

Sejak pandemi melanda Indonesia, hanya tiga provinsi yang mampu menumbuhkan pertumbuhan positif pada kuartal III. Di antaranya Kalimantan Utara 1,46 persen, Sulawesi Tengah 2,82 persen dan Maluku Utara 6,66 persen. Sedangkan, resesi ekonomi paling merana terjadi di Provinsi Bali yang mencapai minus (-) 12,28 persen.

Sementara untuk di daerah Pulau Jawa, resesi ekonomi paling buruk terjadi di Provinsi Banten yang mencapi minus (-) 5,77 persen. Mengingat, Yogyakarta berada di angka minus (-) 2,84 persen, Jawa Timur minus (-) 3,75 persen, DKI Jakarta minus (-) 3,82 persen, Jawa Tengah minus (-) 3,93 persen dan Jawa Barat minus (-) 4,08 persen.

Menanggapi hal itu, Gubernur Banten Wahidin Halim nampak tidak bergairah. Seakan tidak percaya, pria yang kerap disapa WH itu malah menanyakan balik.

"Pertumbuhan ekonomi minus (-) 7 ? Oiya (minus 5). Iya gitu, iya gitu," katanya saat ditemui di Pendopo Gubernur Banten, Senin (9/11/2020).

Meski demikian, orang nomor satu di Banten merasa optimistis pertumbuhan ekonomi akan semakin baik kedepan. Sebab berdasarkan analisanya, pertumbuhan ekonomi Banten pada kuartal V bisa mencapai minus (-) 3, bahkan bisa kembali plus.

"Kalau kami ramalin juga kuartal 5, kuartal 4 akan lebih baik. Bisa minus 3 atau plus," ungkapnya.

Ia menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Banten mengalami anjlok disebabkan oleh industri yang menjadi tulang punggung daerah mengalami kemandekan. Ditambah, kegiatan ekspor produksi menurun akibat pandemi Covid-19.

"Dampak yang paling terasa adalah banyak industri yang menjadi tulang punggung Banten mengalami kemandekan. Kedua, ekspor menurun," terangnya. (Son/TN1)

Komentar