Demo HUT Lebak ke 190, Kumala Singgung Dinasti Politik dan KKN

Aksi unjuk rasa Kumala menyambut HUT ke-190 Kabupaten Lebak. (Foto: TitikNOL)Aksi unjuk rasa Kumala menyambut HUT ke-190 Kabupaten Lebak. (Foto: TitikNOL)

LEBAK, TitikNOL - Puluhan mahasiswa dari Keluarga Mahasiswa Lebak (Kumala) melakukan aksi unjuk rasa memperingati HUT Kabupaten Lebak ke-190 di depan Gedung DPRD Kabupaten Lebak, Minggu (2/12/2018).

Dalam aksinya, mereka menilai bahwa Lebak saat ini di usia ke 190 masih belum sejahtera. Padahal menurut mereka, sesuai Undang - Undang nomor 23 tahun 2014, pemerintahan daerah diberikan kewenangan penuh oleh negara untuk memaksimalkan sumber daya alam yang berorientasi pada kesejateraan masyarakat.

"Sampai saat ini tidak ada implementasi yang konkret dalam program yang dilakukan Pemda Lebak, sehingga hanya menjadi suatu wacana yang tekstual," ujar Ketua Koordinator Kumala Dede Kodir.

Dede menegaskan, masyarakat Lebak saat ini sedang dihadapkan dengan masalah konflik agraria atas alih fungsi lahan produktif menjadi lahan industri.

Selain itu kata Dede, di tahun 2017 Pemda Lebak hanya merealisasikan tiga persen atau Rp64,042 miliar anggaran pendidikan dari total APBD. Padahal amanat konstisusi UU nomor 20 tahun 2003 Pemda harus mengalokasikan dua puluh persen anggaran pendidikan.

Kemudian, hasil survey BPS, indeks pembangunan manusia (IPM) Lebak hanya 62,95 persen paling rendah di antara kabupaten/kota di Banten yang kemudian Lebak sulit keluar dari kemiskinan dan pengangguran.

Belum meratanya pelayanan dan fasilitas kesehatan di Lebak, menjadi suatu ketimpangan atas pada janji - janji politik Bupati dan Wakil Bupati Lebak sehingga untuk mendapat kesehatan harus dibayar mahal oleh masyarakat Lebak di tengah praktik komersialisasi kesehatan.

Ketua Koordinator Organisasi mahasiswa tertua di Lebak itu juga menilai, kesenjangan infrastruktur jalan kabupaten jauh dari kata layak untuk dapat dirasakan masyarakat.

"Ruas jalan Cirinen - Gunungkencana, Cirinten - Bojongmanik dan Panggarangan - Cigemblong sampai saat ini tidak menikmati hasil dari pada pembangunan secara merata," tegas Dede Kodir.

Dalam aksinya, Kumala juga menuntut Pemda Lebak menolak alih fungsi lahan produktif, menyelesaikan konflik agraria, tingkatkan fasilitas dan mutu pendidikan dan realisasikan anggaran 20 persen.

Kemudian, meningkatkan pelayanan dan fasilitas kesehatan, tolak komersialisasi kesehatan, optimalkan ekonomi kerakyatan secara implentasi, entaskan kemiskinan dan pengangguran, perbaiki infrastruktur jalan Kabupaten secara merata.

"Jangan ada dinasti politik dan hilangkan KKN pada tubuh birokrasi serta cipatakan good government dan clean governmet," tandas Dede.

Sementara itu, pantauan di lapangan aksi demo Kumala di HUT Lebak ke 190 diwarnai aksi saling dorong dan adu jotos antara pendemo dengan aparat Kepolisian yang mengamankan jalannya aksi.

Aksi itu berawal saat puluhan aktivis Kumala mencoba merangsek ke depan Gedung DPRD Lebak, namun dihalau oleh petugas Kepolisian.

Aksi saling dorong dan adu jotos pun nyaris tak terhindarkan. Beruntung, aksi tersebut mereda setelah sejumlah aparat Kepolisiam dan TNI turut melerai. (Gun/TN3)

Komentar