Ini Penyebab Warga Tutup Paksa Belt Conveyor PT Cemindo Gemilang

Ratusan warga Desa Pamubulan malam tadi masih melakukan aksi tutup paksa aktivitas belt conveyor pabrik semen PT. Cemindo Gemilang. (Foto: TitikNOL)Ratusan warga Desa Pamubulan malam tadi masih melakukan aksi tutup paksa aktivitas belt conveyor pabrik semen PT. Cemindo Gemilang. (Foto: TitikNOL)

LEBAK, TitikNOL - Ratusan warga Desa Pamubulan, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak malam ini masih melanjutkan aksinya agar PT. Cemindo Gemilang tetap menghentikan aktivitas belt conveyor.

Aktivitas belt conveyor dinilai oleh warga yang bermukim di empat wilayah RW di desa setempat sudah sangat mengganggu kenyamanan. Warga mengaku terganggu dengan suara bising belt conveyor selama enam tahun lamanya.

Ahdi, ketua RW 09 Kampung Sukarasa, Desa Pambulan kepada TitikNOL mengatakan, warga masyarakat yang bermukim di sepanjang jalur belt conveyor di empat wilayah RW sudah resah dan sangat terganggu akibat aktivitas belt conveyor milik PT. Cemindo Gemilang.

"Sejak berdirinya belt conveyor selama enam tahun ini, sudah sangat mengganggu kenyamanan masyarakat, pak," ujar ketua RW 09 Desa Pamubulan ini.

Menurutnya, warga yang paling terdampak akibat kebisingan belt conveyor mencapai ratusan Kepala Keluarga (KK) yang bermukim di empat Kampung yakni di Kampung Sukarasa, Puwadadi Timur, Purwadadi Barat dan Kampung Mekarsari.

"Warga menuntut belt conveyor tidak boleh jalan 24 jam, lebih bagusnya lagi sampai jam 17.00 WIB saja sesuai jam kerja," imbuh Ahdi.

Kendati demikian Ahdi menegaskan, jika pihak perusahaan PT. Cemindo Gemilang tetap memaksakan diri belt conveyor tetap beroperasi selama 24 jam, warga menuntut pihak PT. Cemindo Gemilang agar membebaskan lahan tanah dan rumah warga yang dilalui jalur belt conveyor radius 100 meter kanan dan kiri jalur belt conveyor.

Selain soal belt conveyor lanjut Ahdi, warga juga merasa terganggu dengan debu yang berterbangan di ruas jalan nasional Bayah - Cibareno tepatnya sepanjang jalur Desa Pamubulan, akibat aktivitas kendaraan-kendaraan besar pengangkut bahan baku semen dan material lainnya.

"Setiap hari warga juga mengeluhkan debu yang berterbangan ke rumah-rumah warga, debu-debu itu juga sudah sangat menganggu lingkungan," kata Ahdi.

Di tempat yang sama, Ago Juhani Kades Pamubulan mengungkapkan, terkait keluhan warga soal bisingnya suara belt conveyor, Pemerintah Desa Pamubulan mengaku sudah berkirim surat kepada pihak PT. Cemindo Gemilang sebanyak empat kali, namun tidak ada respons atau tanggapan dari pihak PT. Cemindo Gemilang.

"Malam ini juga masyarakat masih menjalankan aksinya, karena PT. Cemindo masih memaksakan diri menghidupkan belt conveyor itu kembali yang sebelumnya sore tadi sudah diminta dimatikan oleh masyarakat," ujar Kades Pamubulan itu.

Menurut Kades, aksi yang dilakukan merupakan akumulasi kemarahan warga yang bermukim di sepanjang jalur belt conveyor.

"Dari awal kan beroperasinya belt conveyor itu sampai pukul 23.00 WIB, tapi beberapa bulan ini PT. Cemindo memaksakan diri belt conveyor itu beroperasi 24 jam, bahkan waktu shalat subuh saja masih beroperasi itu yang ngaconya,"tandasnya.

Disinggung aksi warga ditunggangi kepentingan usaha Trucking miliknya dengan pihak PT. Cemindo Gemilang yang belum dibayar, Ago membantah hal tersebut.

"Itu tidak benar, kalau kepentingan saya ngapain saya harus bersama warga. Saya bisa datang langsung kok ke pihak Cemindo, saya di sini saat ini karena takut terjadi aksi yang anarkis yang dilakukan warga," tuturnya.

Hingga berita ini dilansir, TitiNOL masih melakukan upaya konfirmasi kepada pihak PT. Cemindo Gemilang dan pihak terkait lainnya. (Gun/Riyan/Red)


Komentar