Peringati Sumpah Pemuda, Mapala Banten Protes Pencemaran Lingkungan dengan Minum Air Limbah

Aksi protes pencemaran lingkungan di wilayah Kabupaten Serang dengan cara meminum air sungai Ciujung. (Foto: TitikNOL)Aksi protes pencemaran lingkungan di wilayah Kabupaten Serang dengan cara meminum air sungai Ciujung. (Foto: TitikNOL)

SERANG, TitikNOL - Puluhan pemuda yang tergabung dalam Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) se Provinsi Banten melakukan aksi protes pencemaran lingkungan di wilayah Kabupaten Serang dengan cara meminum air sungai Ciujung.

Dalam aksinya, para pemuda membawa air sungai Ciujung yang sudah warna hitam pekat akibat tercemar oleh limbah industri kedalam botol. Kemudian, mereka meminumnya di depan Kantor Bupati Serang untuk merefresentatifkan kondisi masyarakat.

Untuk mengekspresikan keresahan para petani dan nelayan, para pemuda membacakan puisi dan membuat lukisan sebagai kecaman kepada Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Serang yang tidak peduli kepada nasib warganya sendiri.

Koordinator aksi M Taufiq mengatakan, protes pencemaran lingkungan dengan cara meminum air sungai Ciujung ini dilakukan sebagai bentuk kekecewaan para warga kepada Bupati Serang.

Pasalnya, sepanjang tahun ini Mapala Banten telah melakukan aksi sebanyak empat kali. Namun, Pemkab Serang seakan-akan tuli dan tidak pernah mempunyai itikad baik untuk menyelesaikan masalah pencernaan lingkungan.

"Ini sudah episode ke 4 kami melakukan protes pencemaran lingkungan hidup. Pemerintah ini lucu, katanya limbah ini merk siapa?. Lalu katanya SDM nya kurang dan industrinya banyak. Aneh kan," katanya saat ditemui di lokasi, Senin, (28/10/2019).

Dikatakan Taufiq, masih ingat betul tiga hari yang lalu Pemkab Serang menghamburkan uang ratusan juta hanya untuk memperingati hari jadi Kabupaten Serang.

Hal itu terkesan pemborosan dan poya-poya karena dinilai tidak dapat menjawab persoalan pencemaran lingkungan. Terlebih saat aksi HUT Kabupaten Serang, Tatu Chasanah sebagi pemangku kebijakan berjanji akan melakukan normalisasi sungai Ciujung.

"Tiga hari yang lalu ada pesta di bedolan Pamarayan di hulu, ada jutaan rupiah yang dihabiskan begitu saja. Tapi di hilir menangis, tidak ada air bersih, bau kotor dan jauh dari kepedulian pemerintah," tegasnya.

Sementara itu, Deden salah satu massa mengaku merasa gatal dibagian tenggorokan setelah melakukan aksi meminum air limbah Ciujung.

"Setelah minum tadi, ada rasa gatal di tenggorokan dan tadi sepontan habis minum itu langsung batuk. Sekarang rasanya dehidrasi saja," ujarnya.

Aksi keberaniannya dilakukan karena dirinya jengkel kepada Pemkab yang tidak peduli kepada nasib warganya yang terdampak pencemaran lingkungan. Bahkan ia mengaku siap mewakafkan dirinya sebagai laboratorium manual untuk menguji air sungai Ciujung yang tercemar limbah industri.

"Limbah setiap saat mengancam kesehatan masyarakat. Maka biarkan diri kami, badan kami sebagai laboratorium bahan percobaan," tukasnya.

Pantauan di lokasi, pasca meminum air sungai Ciujung, para massa aksi batuk-batuk dan mengeluarkan dahak. Selain itu, mereka juga menggaruk-garuk lehernya karena merasa gatal. (Son/TN1)

Komentar