Jum`at, 4 April 2025

Peternakan Ayam Timbulkan Bau Busuk, Warga Kibin Resah

Keberadan peternakan ayam yang berdekatan dengan pemukiman warga Kampung Paya, Desa Ketos, Kecamatan Kibin, Kabupaten Serang. (Foto: TitikNOL)
Keberadan peternakan ayam yang berdekatan dengan pemukiman warga Kampung Paya, Desa Ketos, Kecamatan Kibin, Kabupaten Serang. (Foto: TitikNOL)

KIBIN, TitikNOL - Keberadan peternakan ayam yang berdekatan dengan pemukiman warga Kampung Paya, Desa Ketos, Kecamatan Kibin, Kabupaten Serang memicu keresahan warga.

Pasalnya, bau Busuk yang ditimbulkan dari kotoran ayam menyengat hingga ke pemukiman. Akibatnya, warga merasa kehilangan nafsu makan.

Yamin, salah satu warga Kampung Paya mengatakan, masyarakat sudah resah dengan keberadaan kandang peternakan ayam yang menimbulkan polusi udara.

Bahkan, kondisi itu berdampak pada aktivitas mengaji anak usia dini. Sebab, sudah beberapa hari ini anak-anak berhenti mengaji karena tidak kuat menghirup baunya polusi kotoran ayam. Terlebih, letak pengajian yang berdekatan dengan kandang ayam tersebut.

"Nggak enak baunya. Banyak anak kecil nggak ngaji karena baunya, karena tempat ngaji dekat dengan kandang. Jadi banyak yang nggak mau ngaji, harus pakai masker lagi udah kayak di Wuhan," katanya saat dihubungi TitikNOL, Selasa, (18/02/2020).

Menurutnya, bau menyengat tersebut disebabkan oleh kotoran ayam yang dibuang ke sawah. Sehingga, tahi ayam tergenang dalam aliran air sawah dan membusuk menimbulkan bau tak sedap.

"Keluhannya bau karena keadaan kandangnya dekat sawah. Datang hujan, jadi kotorannya tergenang oleh air jadi membusuk. Paling 30 meter jaraknya sama pemukiman warga, dekat banget makanya pada ngeluh warga," terangnya.

Yang lebih ironi, kata Yamin, pada musim kemarau lalat merambah pemukiman warga akibat aktivitas peternakan ayam. Kejadian yang paling memalukan adalah ketika ada hajatan. Para tamu tidak betah dan mencibir kondisi Kampung Paya.

"Baru beberapa bulan itu kandangnya. Kalau kemarau itu lalat. Kalau ayam lagi panen dan kandang di bersihkan, lalat datang ke rumah warga. Kadang makan harus berebutan dengan lalat," ungkapnya.

Ia mengaku, kondisi ini telah di musyawarahkan dengan pihak pengusaha peternak ayam. Namun mirisnya, pengusaha malah meminta ganti rugi untuk biaya pembangunan kandang ayam.

"Ya harapannya nggak ada lagi Kandang ayam, kalau bisa mah di bongkar, harus jauh dari rumah warga," tukasnya. (Son/TN1)

Komentar