Duh, Pertambangan Batu PT Cemindo Gemilang Terus Rugikan Warga Lebak

Kondisi saat peledakan Dynamite (peledak) di lokasi pertambangan Quarry Pamubulan. (Foto: TitikNOL)Kondisi saat peledakan Dynamite (peledak) di lokasi pertambangan Quarry Pamubulan. (Foto: TitikNOL)

LEBAK, TitikNOL - Ratusan warga Kampung Darmasari Barat dan Timur, Desa Pamubulan, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, mengeluhkan aktivitas pertambangan batu Limestone milik PT. Cemindo Gemilang.

Hal itu disebabkan, penggunaan bom dinamit di lokasi pertambangan Quarry Pamubulan, dinilai sangat merugikan masyarakat sekitar. 

Ledakan yang terdengar hingga radius yang cukup jauh itu, kerap menggetarkan kondisi tanah. Akibatnya, banyak rumah warga sekitar mengalami keretakan pada tembok dan dinding rumah.

Dendi, warga setempat mengatakan, aktivitas pertambangan batu Limestone Quarry Pamubulan sudah berlangsung sejak dua tahun terakhir. Kondisi terparah terjadi sekitar tahun 2014 dan 2015. 

Menurut Dendi, saat itu banyak rumah warga sekitar mengalami keretakan dinding dan tembok rumah, akibat ledakan yang terjadi di lokasi pertambangan.

"Memang ada waktu itu bantuan untuk memperbaiki keretakan tembok dan dinding rumah warga. Tapi cuma di poles pakai adukan semen saja, tidak ada ganti rugi lain," ujar Dendi, saat ditemui disekitar lokasi Quarry Pamubulan, belum lama ini.

Padahal, lanjut Dendi, aktivitas pertambangan batu Limstone dan ledakan-ledakan masih terus terjadi sampai sekarang.

Selain itu, kata Dendi, warga pun menyesalkan sikap PT. Cemindo Gemilang yang terkesan mengabaikan keluhan warga.

Selain soal dampak ledakan, warga saat ini pun mengeluh kerap kekurgan air bersih akibat kondisi mata air yang disedot mengunakan artesis untuk kebutuhan pertambangan. 

Akibatnya, debit air bersih di mata air pun makin berkurang, sehingga warga mengeluh kerap kekurangan air bersih. 

"Memang kalau ada hujan debit air bersih yang mengalir dengan menggunakan selang ke rumah-rumah penduduk masih bisa mengalir. Namun, itu pun tidak seperti dulu. Parahnya, ya kalau pas musim kemarau," beber Dendi.

Senada dikatakan, Andi Cole, aktivis pemuda di Kecamatan Bayah. Pihaknya mempertanyakan Standar Opersaional Prosedur (SOP) lokasi gudang tempat penyimpanan bahan peledak (handak).

Kata Andi, bila sesuai SOP gudang handak tersebut harus dibangun radius dua kilometer dari permukiman penduduk. "Faktanya, lokasi gudang handak berada dekat dengan permukiman penduduk. Jaraknya sekitar lebih kurang 500 meter dengan permukiman. Tentu hal ini sangat berbahaya,"ujar Andi. (Gun/rif)

Komentar